Bismillaahirrahmaanirrahiim
Alangkah seringnya,
Mentergesai kenikmatan itu
Membuat detik-detik di depan terasa hambar
Kelezatan itu akan hilang
Dari orang yang terpenuhi tuntutan syahwatnya
Yang haram
Yang tersisa hanyalah dosa dan hina
Belajar dar ahli puasa
Ada dua kebahagiaan baginya
Saat berbuka
Dan saat Allah menyapa lembut memberikan pahala
Inilah puasa panjang syahwatku
Kekuatan ada pada menahan
Dan rasa nikmat itu terasa, di waktu buka yang penuh kejutan.
” Dan janganlah kalian mendekati zina. Sesungguhnya zina adalah perbuatan keji. Dan jalan yang buruk (Al Isra’ 32)
Mari kita dengar kalimat ini, janganlah kalian mendekati zina. Larangan ini tak hanya meliputi peristiwa, tapi segala pengantarnya. Kata ”jangan mendekati” menyuguhkan pastinya kekejian zina. Sebagaimana comberan limbah kimia yang busuk baunya, beracun uapnya, dan najis berpenyakit cecerannya ; mendekatinya adalah dilarang dan segala hal yang mengantarkan padanya juga terlarang. Tersebut dalam sebuah atsar :
”... Sesungguhnya kemaluan para pezina itu menyakiti penghuni neraka karena bau busuknya ...”
Betapa para penipu menggunakan kata cinta untuk mewakili nafsu keji yang mereka selimutkan sepanjang proses pendahuluan sampai zina yang disebut sebagai pembuktian cinta. Demi Allah mereka berdusta ! setiap laki-laki hanya menginginkan regukan kenikmatan dalam setiap interaksi yang mereka sebut pacaran meski mereka bersumpah bahwa cintanya suci dan sejati.
Jika ada yang mengatakan bahwa cintalah yang menyatukan dua insan berlainan jenis tanpa ikatan halal, semoga ia bersiap mengigit jari. Dalam bentuk hubungan yang lepas dari nilai-nilai syar’i, tak pernah ada cinta. Yang ada hanya nafsu dan zina dengan segala topeng yang mungkin sulit dikenali, kecuali oleh orang berhati jernih yang siap menerima kebenaran.
Benarlah engkau Ya Rasulullah. Jika berbicara tentang hukuman yang akan dijatuhkan, maka zina adalah ’masuknya timba ke dalam sumur’ – ini bahasa hadits- yang dipersaksikan empat orang atau diakui sendiri tanpa ancaman dan paksaan. Itulah cermin esensi syari’at : bukan menghukum tapi menjaga kemashlahatan.
Tetapi jika bicara tentang keimanan yang digantungkan pada Dzat Maha Tinggi, zina bukan hanya peristiwa yang membuat seorang gadis hamil lalu dikawinkan dengan penghamilnya. Kalau bicara tentang kesucian seorang mu’min, zina bukan hanya perbuatan yang membuat orangtua kaget melihat anak gadisnya suka rujak dan muntah-muntah.
Zina, mungkin juga berupa pacaran yang oleh orangtua ’modern’ dikatakan sebagai, ’anak saya masih mengerti batas-batasnya’. Batas apa? Demi Allah, catatan zina tak hanya menggores apa yang ada diantara pusat dan lutut. Semua indera dan anggota tubuh bisa jadi terdakwa. Mata, telinga, lisan, tangan, kaki, juga angan. Di bagian tubuh manapun zina mendudukkan diri sebagai potensi celaka yang harus diwaspadai.
”Telah tertulis atas anak Adam nasibnya dari zina. Akan bertemu dalam hidupnya, tidak bisa tidak. Maka kedua mata, zinanya berupa menyimakdengarkan. Lisan, zinanya berkata. Tangan, zinanya menyentuh. Kaki, zinanya berjalan. Dan hati adalah ingin dan angan-angan. Maka akan dibenarkan hal ini oleh kemaluan dan didustakannya.” (HR Muslim, dari AbuHurairah)
Memang, ketika seorang mu’min telah mengahdirkan Allah sebagai kebersamaan dan pengawasan, persepsinya terhadap sesuatu bukan lagi persepsi orang kebanyakan. Ia memandang alam wujud dari ufuk yang tinggi, ufuk kesucian, keagungan, dan kemuliaan, Allah-lah yang paling berhak atas cinta, pengabdian, penghambaan, dn segala yang dia miliki.
Cinta karena Allah, Mimbar Cahaya
” Allah ’Azza Wa Jalla berfirman, ”mereka yang saling mencintai karena keagunganKu mempunyai mimbar-mimbar dari cahaya yang diinginkan oleh para Nabi dan para Syuhada.” (HR At Tirmidzi dari Mu’adz ibn Jabal)
Jika engkau mencintai hanya karena Allah, bersiaplah dicemburui para Nabi dan Syuhada. Jika engkau mencintai hanya karena Allah dan dalam naungan ridha-Nya, maka temuilah cinta sebagai janji dari Ar Rahman untuk orang-orang beriman.
” sesungguhnya orang-orang beriman dan beramal shalih, kelak Ar Rahman akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.” (Maryam 96)
Untung ! Untung ! Inilah janji yang pasti...
Ya Allah, kami memohon cintaMu, cinta orang-orang yang mencintaiMu dan cinta kepada segala yang akan mendekatkan kami kepada cintaMu.
Penasaran kan?
Baca aja di buku ’Nikmatnya Pacaran Setelah Pernikahan’ penulis Salim A.
selamat baca teman !!!


0 komentar:
Poskan Komentar