Buku ini hadir untuk wanita yang ingin menghadirkan atmosfer surga dalam setiap hidup nafasnya. Yang muda maupun yang telah kaya pengalaman hidup. Yang sudah mendampingi dan didampingi, juga yang sedang menanti. Agar bidadari cemburu padamu.
Lalu para lelaki? Seharusnya mereka juga tahu bagaimana memperlakukan wanita dengan keadilan syari’at Allah. Menjaga tanpa mengekang, menghormati kebebasan namun tetap melindungi, serta memberikan rasa nyaman sekaligus rasa aman. Ia, menjadikannya rusuk kiri. Dekat ke tangan untuk dilindungi, dekat ke hati untuk dicintai. Nah, buku ini insyaallah membantu kita, memahami ’sang kawan perjalanan’.
Ada kata yang merangkum kesetaraan, perhatian, dan cinta !
Laki-laki dan perempuan
Saling mengenal, saling memahami, saling bantu, bergandeng tangan (ups!)saling menanggung, dan cekatan mendahulukan
Serasi,,,!
Lalu?
Harusnya kau tahu,
Bidadari bisa cemburu
Itu tantangan,
Untuk medekatkan sumbu
Potensi diri
Dengan nyala suci ruh
Keshalihan
Agar bidadari cemburu
Padamu?
Bukan dengan tebar pesona
Fisik tertentu. Karena pasti
Muke’lu jauh. He he he,,,
Tak juga dengan memenjara diri antara dapur, kelambu, dan sumur ;
Karena Allah dan Rasul tak pernah bermaksud begitu
Yah, ketertarikan pada dimensi kepribadian memang perlu kita waspadai, meski wajar. Lihatlah puteri Syu’aib. Ia begitu tertarik pada Musa. Tapi tak pernah dikisahkan ia melakukan kontak konsultasi dan berbagi masalah dengan Musa. Ia justru berbagi dengan sang ayah, bahkan meanmpakkan ketertarikan dalam siratan yang halus :
”. . . Wahai ayahku, ambilah ia sebagai orang yang bekerja untuk kita. Karena sesungguhnya, orang yang paling baik ayah ambil untuk bekerja ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya” (Al Qashash 26)
ah, sekedar pengambilan objektivitas, kita dengar lagi nasihat Ibnu Mas’ud di saat riak-riak rasa ini hadir, ”jika kau tertarik pada seseorang, ingatlah kejelekan-kejelakannya!”. kita putus rantai tazyin (menghias-hias) dari syaitan ini dengan mengingat kemanusiawian si dia. Sesuatu yang kita sikapi sebagai penjagaan hati, bahwa Sang Maha Sempurna harus lebih diprioritaskan daripada dia.
Cintailah sesuatu sewajarnya, kata Rasulullah karena mungkin suatu ketika ia akan menjadi sesuatu yang kau benci. Dan sederhanalah dalam membenci karena suatu saat mungkin ia menjadi sesuatu yang kau cinta.
Sekali lagi anda jauh lebih tau daripada saya. Bahwa mungkin perlu bagi anda menjaga rahasia siapa nama orang yang anda tertarik padanya. Menjaga dalam keikhlasan hati, menjaga dalam kesucian khayalan, menjaga dalam ungkapan lisan, dan menjaga dalam ekspresi diri. Seperti Fatimah dan ’Ali, saling mencintai dalam kerahasiaan yang paling rapat., kepasrahan paling kuat, dan ikhtiyar suci yang menemukan jalannya. . . dengan karunia Allah ! jika kita husnuzhzan padaNya.
Cinta adalah ruh yang mengalir lembut, menyenangkan, bersinar, jernih, dan ceria. Terkadang juga memanifestasi menjadi luh yang mengalir lembut, menyesakkan, berderai, jerih dan badai . . . tak pernah ia dihukum haram. Karena ia buka virus yang memberikan penyakit pada jiwa seperti yang sering kita salah tafsirkan. Justru cinta, adalah makhluk Allah yang harus dijaga kesehatannya dari setiap penyakit yang mencoba menungganginya. Penyakit yang datang dari syaitan, syahwat, maupun syubhat.
Dua remaja di singsingan fajar risalah, Fathimah dan ’Ali mencontohkan bagaimana cinta hidup, dengan sehat, tanpa penyakit yang menggangu kekhusu’an. Ia menjadi rahasia hati, simpati, ketertarikan, kontrol diri, doa, dan harapan. Saking rahasianya, sampai syaitan pun tak tahu.
Rabbi, bila ku jatuh hati
Ku ingin terbang cepat
Hingga syaitan tak sanggup hinggap
Begitu pun, saat Muhammad ibn’ Abdullah ditanya, maukah ia menikah dengan Khadijah, ia berkata segera, ”bagaimana caranya?”. perhatikanlah intonasi penuh antusiasme ini. Cinta itu sudah tumbuh dan bersemi dalam dirinya. Persis seperti siratan makna dari sabdanya bertahun-tahun kemudian.
”Tidak terlihat, bagi dua orang saling mencintai. Yang seperti pernikahan” (HR Ibnu Majah)
Seperti bunga, cinta sejati takkan mampu menyembunyikan semerbak wanginya. Eksistensi cinta mengejawantah dalam kelembutan, kecerdasan, perbaikan diri, keshalihan dan tentu juga keikhlasan. Tanpa keihklasan yang digantungkan pada Pemilik ’Arsyi Maha Tinggi, ia akan mati. Ia mati, persis seperti setangkai mawar yang dipotong hanya untukm dipersembahkan pada kekasih.
”Dan hendaklah menjaga kesucian dirinya, orang-orang yang belum mampu menikah, hingga Allah mengayakan mereka dari karunianYa. .” (An Nur 33)
Pastinya engkau tahu makna keikhlasan dalam setiap amal. Dan ketidaktahuan adalah syariat agar kita segera mengkaji. Cinta yang tercabut dari tangkai keikhlasan akan menjadi bunga potong yang mungkin sesaat merona, dan selanjutnya masuk ke tempat sampah.
Saat kemampuan nikah belum ditangan, biarlah cinta berekspresi menjadi keshalihan, perbaikan diri hari demi hari. Karena samapta janji Ilahi telah terukir di pelataran wahyu : keshalihan menjumpai keshalihan dan kebusukan menjumpai kebusukan.
”Wanita-wanita yang kotor adalah untuk lelaki yang kotor dan lelaki yang kotor untuk perempuan yang kotor. Dan wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik dan laki-laki yang baik untuk wanita yang baik. . . ” (An Nur 26)
Bagaimana dengan yang saling cinta dan berkomitmen untuk tidak pacaran? Pada beberapa kasus saya temui, tetap saja ia tumbuh tidak sehat. Apalagi jika tetap berasa dalam satu lingkunagan yang keterjangkauan komunikasinya tinggi. Kecuali beberapa yagn sangat sedikit jumlahnya. Jebakan-jebakan syaitan terlalu rumit untuk kita pahami terlebih dahulu hinga kita punya solusi dan prevensi. Sejak zaman Adam dan Hawa, hanya kata taqwa, termasuk taqwa dalam interaksi, yang bisa meredam makar syaitan.
” Dan hendaklah menjaga kesucian dirinya, orang-orang yang belum mampu menikah, hingga Allah mengayakan mereka dari karuniaNya..” (An Nur 33)
Bahkan, tak perlu pula berkata, ”Dinda, tunggu aku tiga tahun lagi !”. Apa perlunya menjanji yang tak pasti. Tak diminta pun bidadari pasti menenti. Dan lelaki langit akan datang bersama cahaya.. .
Penasaran kan?
Pasti ingin tahu !
Baca aja di buku ’Agar Bidadari Cemburu Padamu’ penulis Salim A. Fillah
Senin
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


Tidak ada komentar:
Posting Komentar